Rabu, 05 November 2014

tulisan pendek

MAHASISWA
Semangat seorang mahasiswa adalah semangat yang menghidupkan bangasa
semangat yang berapi-api yang penuh dengan perjuangan yang penuh dengan kejujuran
mahasiswa adalah generasi-generasi yang menjadi ujung tombak bagi bangsa
harapan setiapa masyarakat dan orang tua ditaruh kepada setiap kita mahasiswa
berharap menjadi seorang yang akan jujur dalam memipin masyarakat
kesempatan yang telah diberi dan dimiliki harus diguankan dengan baik dan penuh tanggung jawab

By: Debora Agustina Gultom
(sepenggal tulisan untuk mengsi kekosongan)

RAPAT KETUA KELAS PART 1

RAPAT KETUA KELAS PART 1







Selasa, 14 Oktober 2014

PENGUMUMAN

Teman-teman DPM-FH hari ini akan mengadakan diskusi tentang "RUU PILKADA" JAM 15.00 di kantor DPM-FH penmicara bg TOBA....
Datang yahh !!!!
Salam semangat Mahasiswa....

Selasa, 07 Oktober 2014

Pelantikan, Up-Grading, dan Rapat Kerja

DPMFH UNMER MALANG

Periode 2014-2015


 menyanyikan lagu Indonesia Raya
 Indonesia raya merdeka merdeka tanahku negriku yang kucinta .......~~~

  Serius banget dengar nya.... hehehehe

 kata sambutan Dari Ketua DPM-FH 2014-2015

 Bapak Dekan FH Tercinta..

kami bersumpah......... (wajahnya tegang banget rek hehehhe)

foto bareng dengan Dekan, ketua DPMU, BEMU, Demisioner DPMFH 


foto bareng lg ah,, 1,2,3 ciiisss

Anggota kepengurusan DPM-FH 2014-2015 (Cakep-cakep dan cantik-cantik yahh kwkwkw)

Up-Grading oleh pembicara Bg HATARTO PAKPAHAN.

 pada serius dengarin materi  (good biar jadi anak pintar)

Rapat kerja di kebun teh Lawang..

angin sepoi-sepoi, membuat ku semangat untuk Rapat Kerja.. :)








TUNGGU INFORMASI KEGIATAN KAMI SELANJUTNYA YAH!!!!!!!!

:)












Jumat, 29 Agustus 2014

KETUA DPM-FH UNMER PERIODE 2014-2015



VISI DAN MISI KETUA DPM-FH  PRIODE 2014-2015

Dalam sebuah organisasi suadah seharusnya untuk setiap masa kepemimpinannya untuk membuat sebua visi dan misi yang dimana visi dan misi tersebut akan menjadi landasan untuk menjalankan sebuah roda organisasi. Begitu pula dengan saya yang telah terpilih menjadi ketua lembaga kemahasiswaaan yang ada di fakultas hukum universitas merdeka malang yang tak lain adalah organisasi Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum (DPM-FH) mempunyai visi dan misi sebagai berikut:

Visi:
 “Mewujudkan lembaga DPM-FH  yang inspiratif, aplikatif, berintegritas dan kritis”



           Misi :              
1.     Menjadikan lembaga DPM-FH sebagai lembaga yang solid serta melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab
2.     Lembaga yang peduli dan cinta terhadap mahasiswa dan fakultas
3.     Membahas permasalahan-permasalahan yang ada, dalam suatu forum diskusi demi terwujudnya mahasiswa intelektual dan kritis.

Tujuan:          Menghasilkan Generasi yang memiliki Disiplin, intelektual yang tinggi, moralitas serta Soft skill sehingga dapat berkontribusi bagi lingkungan masyarakat, bangsa & Negara

Motto Berorganisasi:
“Anda tidak perlu menjadi hebat untuk memulai,
Namun anda perlu memulai untuk menjadi hebat.

“kami melakukan tugas dan tanggung jawab dengan cinta ”
Maka Untuk itu motto Lembaga DPM-FH Periode 2014-2015 :
“lakukan dengan cinta J dan siap melayani”


Kamis, 28 Agustus 2014



PENGUMUMAN
Sehubungan dengan sudah terpilihnya ketua DPM-FH yang baru periode 2014/2015 berdasarkan Pemira yang telah dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2014
Maka untuk itu dibuka pendaftaran calon anggota DPM FH dengan syarat dan ketentuan dibawah ini:
1.   Pendaftaran calon anggota diadakan di kantor/secret DPM-FH
Pelayanan dan pengambilan formulir pendaftaran di mulai tanggal 25 Agustus 2014 mulai dari jam 08.00 s/d 13.00 di kantor DPM-FH
2.   Setiap calon anggota yang mendaftarkan diri menjadi anggota DPM-FH diwajibkan untuk  mengisi formulir yang sudah disediakan
3.   Syarat-syarat menjadi anggota DPM-FH
a.       Syarat Umum:
Ø  Bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa
Ø  Terdaftar sebagai mahasiswa aktif di fakultas Hukum UNMER Malang
Ø  Bersedia melaksanakan tugas yang diembankan  dengan jujur dan penuh tanggung jawab serta mau mengabdikan diri pada Fakultas
b.      Syarat Khusus:
Ø  IP/IPK minimum 3,00
Ø  Minimal semester II dan maksimal semester VIII
Ø  Tidak sedang terlibat dalam kasus Pidana

4.   Menyerahkan Pas foto berwarna  4x6 sebanyak 2 lembar dengan ketentuan:
ü  Memakai jas almamater
ü  Foto setengah badan
ü    Bakron warna merah
5.   Pendaftaran harus secara langsung/tidak bisa di wakilkan
6.   Pengembalian formulir Pendaftaran paling lambat tanggal 6 September 2014
7.   Mengikuti semua mekanisme pendaftaran/seleksi yang sudah ditentukan.
8.   Pengumuman hasil seleksi tanggal 8 september 2014
9.         Info lebih lanjut bisa menghubungi ketua DPM terpilih Debora Agustina Gultom
(contak Person: 082335576176)
Malang,25 Agustus 2014
Ketua DPM FH Periode 2014-2015


Debora Agustina Gultom
(12100012)

Rabu, 16 Juli 2014

Pahlawan

Refleksi kepahlawanan

Barang siapa sungguh menghendaki kemerdekaan buat umum,
segenap waktu ia harus siap sedia dan ikhlas buat menderita
“kehilangan kemerdekaan diri sendiri” (Tan Malaka)

Setiap 10 November bangsa Indonesia selalu mengibarkan bendera satu tiang penuh. Upacara penghormatan pun dilakukan untuk memperingati hari Pahlawan. Seremonial tahunan ini menjadi satu refleksi bagi kita semua untuk mengenang jasa-jasa besar para pahlawan Indonesia yang dengan ikhlas mengorbankan segenap jiwa dan raga yang dimiliki sampai tetes darah penghabisan. Semua itu demi satu tujuan: Kemerdekaan! Merdeka dari penghisapan, merdeka dari penjajahan, dan merdeka dari penindasan kolonial. Soekarno pernah berkata bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah lupa akan jasa para pahlawannya. Maka dari itu, jangan pernah sekalipun melupakan sejarah. Seperti Bung Karno bilang “Jangan Sekali – kali Melupakan Sejarah!”

Hari Pahlawan diperingati setiap tanggal 10 November. Hari dimana terjadi pertempuran hebat antara arek-arek Suroboyo dengan serdadu NICA yang diboncengi Belanda.
Menjelang tahun 1950-an, Presiden Soekarno menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Pahlawan. Sebagaimana diusulkan Sumarsono, mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang ikut ambil bagian dalam peperangan sengit itu.
Lantas kenapa Bung Karno memilih peristiwa itu sebagai simbol kepahlawanan yang setiap tahun diperingati?

Menurut sejarawan Universitas Indonesia (UI) JJ Rizal, Bung Karno sengaja memanfaatkan momentum itu untuk melegitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sehingga nilai kepahlawanan tersemat dalam sebuah perjuangan melawan agresi militer.
“Untuk memobilasi kepahlawanan secara militeristik, makanya 10 November dijadikan Hari Pahlawan,” katanya saat berbincang dengan okezone, Rabu (9/11/2011) malam.

Setelah Hari Pahlawan ditetapkan, figur-figur yang secara historis ikut berjuang pun diberi gelar kepahlawanan. Meskipun, kata Rizal, pada perjalanannya tolok ukur kepahlawanan ini tidak mutlak dilihat dari sisi sejarah, melainkan dicampuri kepentingan rezim penguasa.

“Pada masa Soekarno, tokoh-tokohnya 50 persen masih bisa dipertanggungjawabkan. Tapi mulai zaman Soeharto. Indonesia menjadi negara yang terus memproduksi pahlawan dengan penilaian yang lebih cenderung pada pertimbangan politik,” ujarnya. Dimana pahlawan lebih banyak berasal dari lembaga Kemiliteran atau Kepolisian.

Mengenai makna Hari Pahlawan sendiri, Rizal menilai, saat ini lebih mengedepankan unsur seremoni belaka, tanpa menghayati nilai-nilai perjuangan yang dipesankan oleh para pahlawan ini
Padahal, kata dia, yang terpenting adalah mengambil tauladan dari nilai-nilai perjuangan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Akan menjadi ironi jika memperingati hari pahlawan sebatas seremoni. Lebih dari itu, refleksi ini menjadi satu perenungan kita bersama, sejauh mana kita sebagai kaum muda (baca: mahasiswa), mampu menjadi bagian dalam proses pembangunan bangsa ini ke depan? Hal signifikan apa saja yang telah kita perbuat di dalam arus persaingan yang global ini? karena seperti apa yang dikatakan oleh Soe Hok Gie bahwa kitalah generasi yang akan memakmurkan Indonesia. 

Memang secara legal formal bangsa ini telah merdeka, tetapi bila kita lihat secara hakikat ternyata belum sepenuhnya kita merdeka. Penjajahan yang kita alami sekarang tidak sama dengan apa yang dialami oleh arek-arek Suroboyo ketika melawan Inggris di Surabaya 68 tahun silam dengan menggunakan beberapa pucuk senjata dan bambu runcing. Bentuk penjajahan yang kita alami saat ini tidak bermuka garang melainkan berwajah lembut. Kita dijajah secara sistem!

Tengoklah berapa juta massa rakyat Indonesia yang terbelenggu dalam kemiskinan, mereka yang tidak mampu sekolah, pengangguran yang menumpuk, petani yang dirampas tanahnya, buruh dengan gaji rendah, belum lagi kanker korupsi yang masih menjamur di tubuh birokrasi negeri ini. Tan Malaka membuat sebuah illustrasi yang menyedihkan tentang keadaan rakyat. Sebuah kenyataan yang ditulis puluhan tahun lampau namun masih dekat dengan kenyataan yang sekarang kita alami: Beberapa juta jiwa sekarang hidup dalam keadaan ‘pagi makan, petang tidak’. Mereka tidak bertanah dan beralat lagi, tidak berpengharapan di belakang hari. Kekuasaan atas tanah pabrik, alat-alat pengangkutan dan barang perdagangan, kini semuanya dipusatkan dalam tangan beberapa sindikat...demikianlah rakyat Indonesia tambah lama tambah miskin sebab gaji mereka tetap seperti biasa(malahan kerapkali diturunkan), sementara barang-barang makanan semakin mahal...

Hal inilah yang secara kongkrit harus kita jawab bersama. Bangsa Indonesia saat ini membutuhkan pahlawan-pahlawan baru untuk mewujudkan kehidupan massa rakyat yang demokratis secara politik, adil secara sosial, sejahtera secara ekonomi, dan partisipatif secara budaya. 

Pengalaman-pengalaman besar harus dijemput bukan hanya melalui analisa tapi juga karya-karya penting untuk menggugah kesadaran yang sudah lama terlelap. Di dunia pemikiran kita bukan sekedar membutuhkan gagasan-gagasan baru melainkan juga ‘alat baca’ yang berpihak atas massa rakyat yang tertindas. Intelektual adalah bagian dari arus massa tertindas dan sebaiknya mengerti, memahami, dan menyelami kehidupan mereka. Hal ini tak akan bisa dimengerti jika mengetahui kehidupan hanya sebatas kegiatan-kegiatan pelatihan, workshop, rapat, seminar, diskusi atau penelitian ‘pesanan’. Kegiatan itu hanya akan meningkatkan pendapatan bukan pemahaman atas kenyataan sosial. Membuang keyakinan lama mungkin jadi syarat utama menuju pada tugas serta mandat seorang intelektual terpelajar. 

Tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. Kita wajib menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka. Karena itulah hari Pahlawan harus kita peringati dan refleksikan. 

Namun, kepahlawanan tidak hanya berhenti di sana. Dalam mengisi kemerdekaan pun kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Bukankah arti pahlawan itu adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran? Bukankah makna pahlawan itu adalah pejuang gagah berani? Bukankah makna kepahlawanan tak lain adalah perihal sifat pahlawan seperti keberanian, keperkasaan, dan kerelaan berkorban?


musiantotatok@gmail.com